"Hey, Emi. Apakah kamu bakal mengubur kapsul waktu ini?" Tanya Aiko.
"Tapi, apakah kita akan kesini dan membongkar kapsul waktu ini bersama?" Tanya Hanako
"Pokoknya kita akan terus kirim surat ke sesama. Terus, kita buat surat untuk diri sendiri buat nanti di baca saat kita umur 20 tahun. Bagaimana?" Usul Emi.
"Wah, boleh juga idemu Emi. Sekarang lebih baik kita kubur saja kapsul waktu ini. Nanti keburu sore. Kalau sudah sore, nanti orang tua kita akan mencari kita" Ujar Aiko
"Okey, biar aku yang gali. Kalian masuka kapsul waktu ini" Seru Hanako
Mereka bertiga pun menggali, kemudain mengubur kapsul waktu itu di bawah pohon di tengah hutan.
"Fyuh.. sekarang kapsulnya sudah terkubur. Sekarang kita pulang saja yuk" Ajak Emi.
"Baik" Seru Aiko dan Hanako bersamaan.
Mereka pun pulang ke rumah masing-masing yang tak jauh dari hutan tempat mereka mengubur kapsul waktu mereka.
"Fujiwara kau dicari oleh Sakamoto dan Miharu" Ujar Sakura
"Baik, aku akan segera kesana" Ujar Emi
Fujiwara Emi, gadis berumur 15 tahun yang masuk ke SMA Gakuen. Dia berada di kelas XII A. Kelas unggulan atau bisa di bilang kelas spesial. Dan teman sepermainannya sejak kecil, Sakamoto Aiko dan Hanako Miharu yang berada di kelas XII D.
Emi pun mempercepat langkah kakinya menuju kelas mereka berdua. Sesampainya di kelas mereka, Emi melihat teman sepermainannya itu di sakiti oleh murid laki-laki.
"Hey, apa yang kalian lakukan!" Ujar Emi marah
Semua mata tertuju pada Emi, pada murid laki-laki pun menyingkir dan Emi segera menghampiri Aiko dan Hanako.
"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Emi cemas
"Tidak. Maaf yah jika aku dan Aiko suka menyusahkanmu" Ujar Hanako
"Lho, sebagai teman aku harus membela kalian kan? Lebih baik kalian minta ganti kelas. Aku tak mau kalian di sakiti oleh mereka" Ujar Emi sambil melirik sinis kepada murid laki-laki.
Emi terkenal sebagai putri preman, walaupun nilai dan sikapnya di sekolah sangat baik. Tapi, jika di luar sekolah, ia sangat sadis untuk melindungi orang-orang lemah. Ia bahkan di takuti oleh banyak preman yang selalu mangkal di pinggiran atau pusat kota Tokyo.
"Jika kalian ganggu mereka lagi, kalian akan berurusan denganku" Ujar Emi mengancam
Siswa laki-laki di kelas itu hanya melihat Emi dengan memasang wajah siap untuk membunuh mereka. Mereka hanya mengangguk tanpa sepatah kata sedikit pun.
"Baiklah, jika kalian ada masalah lagi. Panggil saja aku" Ujar Emi
"Terima kasih, Emi " Seru Hanako
"Kami berhutang banyak padamu" Ujar Aiko
Emi pun kembali ke kelasnya. Ia sangat menjaga teman-temannya itu. Karena hanya mereka berdua yang sekarang Emi punya. Orang tuanya selalu keluar kota bahkan keluar negri sampai berbulan-bulan. 1 tahun, orang tua Emi hanya pulang 2 kali saja. Itu pun hanya sebentar, makanya bagi Emi, Hanako dan Aiko itu sangat berharga baginya.
Emi pun sampai di kelasnya dan mendapati teman-temannya sedang rapat mendadak. Pemandangan seperti itu sudah biasa bagi Emi yang di anggap bisa menjatuhkan imej anak-anak kelas A.
Emi pun duduk di bangkunya dan memandang keluar jendela. Sementara anak-anak yang lain hanya memandang sinis kepadanya. Di kelasnya ini, teman Emi hanyalah Fujimoto Sakura. Sakura adalah orang yang mudah bergaul dengan siapa saja termasuk Emi yang di juluki Putri Preman.
"Hey, Emi. Bagai mana dengan Sakamoto dan Miharu?" Tanya Sakura membuyarkan lamunannya.
Emi hanya melirik Sakura lalu kembali memperhatikan lapangan yang penuh dengan anak-anak yang sedang bermain baseball.
"Hallo... kok gak jawab pertanyaanku sih Fujiwara?" Tanya Sakura
"Mereka? Mereka baik-baik saja. Oh yah, jangan mentang-mentang disini adalah kelas spesial kau harus memanggil nama formalku. Panggil saja Emi. Kenapa sih?" Tanya Emi sedikit dengan nada marah
"Bukannya tak mau Emi, tapi kau tahu kan? Kelas ini sangat sopan. Jadi kuharap kau tak keberatan ku panggil Fujiwara" Bisik Sakura
"Baiklah. Fujimoto" Ujar Emi kesal.
"Nah, gitu dong Fujiwara. Baiklah, kau mau kekantin? Bukan kah sekarang sudah istirahat?" Ajak Sakura
"Kau saja yang ke kantin. Aku hanya ingin sendiri" Jawab Emi
"Baik lah, aku duluan yah Fujiwara."
"Yah...."
Emi hanya menduduk lemas dan menyembunyikan mukanya di balik mukanya. Ia tak ingin di ganggu oleh siapapun. Ia hanya ingin sendiri.
Selama pelajaran berlangsung pun ia tak konsentrasi. Walaupun materi itu sangat penting. Tapi, ia tak peduli. Nanti ia bisa belajar dengan Aiko dan Hanako. Sahabat sejatinya.
Ting,tong,ting,tong
Bel pun berbunyi, Emi pun pulang dengan langkah gontai. Sakura yang tak ingin mengganggunya hanya dapat melihatnya walaupun rumah mereka berdekatan.
Di gerbang sekolah, terlihat Aiko dan Hanako yang sudah menunggu Emi sedari tadi. Emi yang tadi memasang wajah muram kini memasang wajah senang seperti baru memenangkan Lotre.
Emi pun berlari menuju mereka berdua.
"Aiko..... Hanako..." Teriak Emi dari kejauhan sambil berlari.
Aiko dan Hanako pun melihat ke arah Emi, dan melambaikan tangan mereka kepada Emi. Emi pun membalas lambaian itu. Mereka bertiga terlihat senang, wajar saja. Pulang sekolah adalah waktu yang mereka bertunggu.
Saat Emi berlari menuju mereka, ia melihat orang disamping Aiko. Perempuan cantik berambut panjang. Ia terlihat seperti Asuka Michiyo. Orang yang sangat baik kepada siapa saja. Ia juga sekelas dengan Emi. Dia pun menduduki peringkat ke 1 di kelas Emi.
Langkah Emi pun semakin lambat setelah melihat Asuka berada di antara mereka berdua. Wajah cerianya hilang begitu saja dan kembali memasang wajah muram. Ia berjalan dengan langkah gontai menuju mereka.
"Hai, Emi. Kita membawa teman baru." Ujar Aiko saat Emi berada di dekat mereka
"Ini Asuka. Asuka Michiyo. Dia akan membantu kita dalam hal pelajaran." Ujar Hanako
"Oh, begitu. Salam kenal" Ujar Emi sinis
"Kau Fujiwara itu kan? Bukan kah kita sekelas?" Tanya Asuka
"Aku tak pernah menghafal nama teman-teman di kelas. Kalau begitu, sekarang kita akan belajar dimana?" Tanya Emi mengalihkan pembicaraan.
"Bagaiman kalau dirumah Asuka?" Usul Aiko
"Boleh juga, kau tak keberatankan Asuka?" Tanya Hanako
"Tidak. Malah aku sangat senang. Kalau Fujiwara?" Tanya Asuka
"Terserah. Oh yah, jangan panggil aku Fujiwara panggil saja aku Emi." Ujar Emi sinis
"Baiklah Emi"
Akhirnya mereka berjalan menuju rumah Asuka. Aiko dan Hanako sangat menikmati bercakap-cakap dengan Asuka. Emi hanya terlihat murung di belakang mereka. Ia tak ingin berbicara dengan Asuka.
"Lho, Emi. Kenapa kamu diam dari tadi?" Tanya Hanako membuyarkan lamunan Emi
"Tidak." Jawab Emi singkat
"Biasanya kau sangat ceria jika kita belajar bersama. Apa yang terjadi?" Tanya Aiko cemas
"Tidak, bukan urusan kalian." Jawab Emi
"Apa masalah tadi di kelas kami melihatmu dengan tatapan sinis?" Tanya Asuka
"Tidak, aku sudah terbiasa dengan itu."
"Lalu, apa? Kau dapat cerita denganku. Aku tak akan membocorkannya kok" Tawa Aiko
"Tidak." Jawab Emi singkat
"Tak biasanya kau begitu. Ada apa?" Tanya Hanako kembali
"Sudah kubilang bukan urusan kalian"
"Kenapa kau berkata seperti itu? Apa kami tidak berati di mata Emi?" Tanya Hanako
"Tidak, bukan itu maksudku tapi...." Kalimat Emi pun tak dilanjutkan
"Tapi apa? Ya sudah lah, jika tak mau cerita pun tak jadi rugi untukku ini." Ujar Aiko kesal
Dan semakin saja kekesalan Emi bertambah. Ia tak sanggup melihat Hanako dan Aiko akrab dengan Asuka. Ia sangat jengkel.
Di rumah Asuka pun, Emi tak berkata sepatah katapun. Ia sangat kesal dengan kata-kata Aiko. Untung ia dapat menahan amarahnya. Ia tak ingin kehilangan mereka berdua. Baginya Aiko dan Hanako sudah menjadi bagian dalam hidupnya.
Saat pulang dari rumah Asuka akhirnya Emi menceritakan semuanya kepada Aiko dan Hanako.
"Maafkan perkataanku tadi, aku tak bermaksud..."
"Sudahlah Emi, aku tahu kok kenapa kamu seperti itu" Ucapan Emi terpotong oleh Hanako
"Karena apa?" Tanya Emi penasaran
"Kau cemburukan?" Tanya Aiko
"Ce...cem...cem...cemburu?
Apa maksudmu?" Tanya Emi yang mukanya menjadi merah.
"Ayolah Emi. Kami tahu. Kau sangat pencemburu. Kau tak dapat hidup seperti ini Emi. Kau harus berubah" Ujar Aiko
"Berubah? Apa maksudmu" Tanya Emi penasaran
"Berubah, kau tak boleh bergantung pada kami terus. Mungkin kami memang sahabatmu. Tapi, kamu bukan orang tua kami. Kamu seperti mengekang apa yang kami lakukan" Ujar Hanako panjang lebar
"Apa maksudmu mengekang?" Tanya Emi heran
"Iya. Kau berbubah drastis jika melihat kami dekat dengan seseorang. Itu membuat kamu sakit. Apa kau tahu, tak enak sekali di cemberutin oleh sahabat?" Ujar Hanako
"Apa maksud kalian? Aku hanya tak ingin kehilangan kalian" Ujar Emi membela
"Kami tahu, tapi..."
Emi langsung berlari dengan cepat. Ia pun pergi ke tempat para preman. Ia hanya ingin melampiaskan kekesalannya. Ia tak sangka, kecemburuannya telah mengekang mereka berdua. Ia hanya tak ingin kehilangan mereka saja.
Sesampainya di tempat para preman, Emi hanya marah-marah tak jelas. Ia menggunakan seluruh tenaganya untuk menghancurkan tempat itu sampai larut malam. Ia tertidur disana.
~ Esok harinya ~
Hanako dan Aiko merasa bersalah dengan ucapan mereka kemarin. Mereka pun mengahampiri rumah Emi dan ternyata Emi tak berada disana. Biasanya Emi selalu menuju rumah Sakura jika Emi sedang kesal.
Mereka pun menghampiri rumah Sakura dan tetap saja, tak ada Emi disana.
"Menurutmu Emi ada dimana?" Tanya Aiko
"Mungkin ia sudah ada di sekolah. Ayo cepat kesekolah" Ujar Hanako.
Mereka pun berlari menuju sekolah. Dan sesampainya disekolah, mereka berlari menuju dengan cepat ke kelasnya Emi. Sama saja seperti yang sudah-sudah. Emi tak ada.
Selama pelajaran pun, Aiko dan Hanako tak tenang. Mereka tak henti-hentinya berfikir dimana Emi berada sekarang. Akhirnya setelah pulang sekolah. Mereka berniat mencarinya di pangkalan preman, walau nyawa taruhannya.
~~ Di lain tempat ~~
Emi pun terbangun dari tidurnya. Ia melihat masih ada preman-preman. Sepertinya mereka menjaga Emi tidur. Emi pun berfikir untuk tidak kembali dan bertemu dengan Aiko ataupun Hanako apalagi Sakura. Walaupun itu harus menyakiti perasaan orang tuanya.
"Bos, apa bos sudah selesai tidurnya?" Tanya salah seorang preman pada Emi
"Sudah. Gak apa-apakan kalau aku disini?" Tanya Emi
"Tentu Bos, Bos kan Bos kami. Jadi kami tidak berhak melarang bos." Ujar preman lainnya
"Bagus, kalau begitu aku mau ke super market dulu."
"Baik Bos"
Emi pun turun dari atas mobil fan yang ia tiduri. Emi berjalan gontai menuju super market itu.
Setelah berjalan beberapa lama, Emi pun sampai di super market. Ia membeli beberapa minuman. Dan segera pergi dari sana.
Ketika Emi berjalan, ada suara-suara yang memanggilnya. Ia tak peduli, karena nama Emi masih banyak dan tak hanya dia seorang.
Emi pun berhenti di zebra cross dan menunggu untuk menyebrang. Dan di sebrang zebra cross tersebut ada Aiko dan Hanako yang menyadari di sebrang sana ada Emi.
"Emi, Emi,Emi " Teriak Aiko. Tapi Emi ak mendengarnya.
"EEEMMMIIII" Teriak Hanako. Tapi, sama saja. Emi tak melihat ke arah Hanako atau Aiko.
Hanako yang jengkel dengan lampu penyebrangan yang tak kunjung hijau tanpa sadar menyebrang begitu saja.
"Hanako awas.." Teriak Aiko
Aiko pun mendorong Hanako agar tak tertabrak oleh truk, tapi sayangnya sedan hitam melindas tubuh mereka berdua.
"Kyyyaaaa" Teriak seorang gadis kecil
Zebra Cross pun penuh sesak dengan orang-orang yang ingin melihat Hanako dan Aiko. Emi pun penasaran dengan siapa yang tertabrak. Emi pun menerobor kerumunan dan mendapati Aiko dan Hanako penuh dengan darah.
"Aiko.... Hanako..." Teriak Emi dan menjatuhkan belanjaannya.
"Aiko bangun, Hanako bangun" Emi menggunjang-gunjangkan badan mereka berdua.
"Cepat panggil Ambula" Teriak Emi.
Dan tak lama kemudian ambulan pun datang membawa Aiko dan Hanako. Emi pun ikut bersama mereka.
"Bertahanlah Aiko, Hanako. Aku tak ingin kehilangan kalian"
Dan tak berapa lama mereka sudah berada di rumah sakit. Aiko dan Hanako pun segera menjalani operasi.
Emi pun menunggu di lobby sambil harap-harap cemas, takut terjadi apa-apa dengan Aiko ataupun Hanako. Ia akan membayar dan memberikan apapun asal Aiko dan Hanako masih bisa sembuh.
Setelah sekian lama Aiko menunggu, akhirnya dokter yang menangani mereka berdua.
"Dok, bagaimana keadaan teman-teman saya?" Tanya Emi Cemas
"Nona Mihura mengalami patah tulang di tulang rusuknya dan membutuhkan banyak darah. Sedangkan Nona Sakamoto membutuhkan Ginjal sekarang juga" Ujar Dokter
"Dok, tolong dok, tolong. Saya akan mendonorkan ginjal saya dan darah saya pada mereka"
"Tapi..."
"Dok, tolong. Mereka adalah nyawa saya." Seru Emi menangis
"Baik lah, isi formulir di bagian pendaftaran pendonoran. Suster, tolong antar anak ini segera." Ujar dokter menyuruh suster
"Baik dok" Seru Suster
"Terima kasih banyak dok" Ujar Emi yang sudah menangis
Emi pun di antar oleh suster ke tempat pendaftaran. Emi pun mengisi formulir dan mulai menjalani pemeriksaan tes darah dan tes kococokan ginjal. Dan ternyata darahnya sama dengan Hanako sedangkan ginjalnya cocok dengan Aiko. Emi pun mulai menjalani pencangkokan ginjal dan pendonoran darah pada hari itu juga.
Emi yang kelelahan karena kekurangan banyak darah di rawat sementara. Sedangkan Aiko dan Hanako menjalani operasi kembali.
Setelah beberapa jam berlalu, Aiko dan Hanako selesai operasi dan dapat terselamatkan. Mereka pun di rawat diruang ICU. Sementara Emi, belum sadarkan diri juga akibat kelelah tadi.
Setelah beberapa hari berlalu akhirnya Aiko dan Hanako siuman. Mereka sudah terlihat sehat. Dan setelah 2 minggu setelah mereka siuman, mereka di perbolehkan untuk pulang.
"Terima kasih yah dok, sudah bisa menyelamatkan nyawa saya" Ujar Aiko saat hendak pulang
"Sama-sama. Tapi, sepertinya nona tak perlu berterima kasih kepada saya. Seharusnya nona berterima kasih kepada orang yang mendonorkan ginjalnya untuk nona" Ujar dokter
"Benarkah? Siapa dia? Bisakah saya dokter mempertemukan saya dengannya?" Tanya Aiko gembira
"Sepertinya tidak bisa, Dia sudah meninggal sebelum kalaian siuman. Dia juga mendonorkan darahnya untuk nona Miharu" Ujar dokter
"Sayang sekali. Padahal saya ingin berterima kasih kepadanya" Ujar Aiko
"Benar, Kalau begitu kami pulang dulu yah dok. Makasih yah dokter" Ujar Hanako
"Sama-sama"
Aiko dan Hanako pun pulang, mereka disambut dengan bahagia oleh teman-temannya dan keluarganya. Hanya 1 orang yang tak datang saat menyambut Aiko dan Hanako pulang, Emi.
"Asuka, Sakura, Emi dimana?" Tanya Hanako
"Emi? Siapa?" Tanya Sakura kembali
"Fujiwara" Tegas Aiko
"Ohh.. dia. Dia sudah meninggal sebelum kalian siuman" Ujar Asuka sedih
"Apa?" Tanya Aiko dan Hanako kaget
"Iya, dia kekurangan banyak sekali darah setelah mendonorkan ginjal dan darahnya papa kalian. Dan akhirnya ia meninggal." Ujar Sakura menjelaskan.
Aiko dan Hanako pun tak dapat menahan air matanya. Air matanya berjatuhan dengan cepat. Tak disangka, kepulangan mereka disambut dengan kesedihan yang mendalam seperti ini.
"Oh yah, sebelum meninggal Emi meninggalkan surat untuk kalian baca" Ujar Asuka tiba-tiba. Ia pun mengeluarkan sepeucuk surat dari Emi dan menyerahkannya kepada Aiko.
Untuk Aiko dan Hanako
Hai, Aiko, Hanako. Semoga kalian sehat selalu yah. Mungkin ini pesan terakhir dariku. Tapi jangan pernah lupakan aku yah. Kalian adalah sahabat terbaik yang pernah kupunya. Kalian adalah sebagian besar nyawaku. Hehehe... Oh ya, aku hanya ingin mengatakan kalian jangan lupa menggali kapsul waktu yang 10 tahun kita tanam itu loh... Yang ada di bawah pohon di tengah-tengah hutan. Maaf, jika aku tak bisa menepati janji kalian. Tapi, semoga kapsul waktu itu menjadi kenangan terindah bagi kalian.
Dari, Emi
"Emi sudah pergi dan meninggalkan kita surat ini Hanako" Ujar Aiko dalam keadaan menangis.
Hanako pun melihat surat itu, dan tak lama ia pun berjalan terpogoh-pogoh keluar rumah.
"Hanako mau kemana kamu?" Tanya Sakura
"Aku mau ke tengah-tengah hutan" Jawab Hanako
"Aku ikut" Seru Aiko.
"Kalian tak bisa pergi dengan keadaan seperti itu. Lebih baik biar aku temani kalian" Seru Asuka
Mereka pun berjalan menuju tengah-tengah hutan tempat kapsul waktu itu dikubur. Dan tak beberapa lama, mereka sampai di tempat dimana kapsul waktu itu berada. Sakura pun menggalinya dan mengeluarkan kapsul waktunya. Kapsul waktu beberbentuk kotak tua yang sudah rapuh.
Aiko dan Hanako pun membukanya secara bersamaan. Dan terbukalah semua kenangan-kenangan indah berasama Emi. Air mata pun jatuh tak beraturan. Mereka tak sanggup melihat semuanya itu. Apalagi tanpa kehadiran Emi.
Hanako pun melihat surat, dan mulai membacanya
Untuk Emi, Aiko, dan Hanako di masa depan
Hai kalian semua. Apa kabar? Kami harap kami yang dimasa depan baik-baik saja. Oh yah, kami hanya ingin melihat reaksi kami di masa depan setelah melihat puisi yang kami buat. Tolong di baca yah. Judulnya Sahabat yang tak pernah mati
Sahabat
Sampai kapan kau tahan bersamaku
Sampai kapan kau ingin terus ada disisiku
Sahabat
Tak akan pernah kulupakan segalanya
Tentang aku, dan kamu
Tak akan pernah kubuang apapun juga
Tentang kenangan indah antara kita
Walau raga ini mati
Tapi kuharap rasa ini tak akan mati
Dan akan selalu hidup selamanya
Mungkin hanya kata yang bisa ku ucapkan
Tapi, semoga itu bisa menyimbolkan semuanya
Terimakasih sudah mau menjadi sahabatku.
Sahabat yang tak akan pernah mati
Itu lah puisi yang kami buat, semoga kami di masa depan tak akan lupa tentang persahabatan. Sampai disini dulu yah surat dari kami untuk kami di masa depan.
Dari, Emi, Aiko dan Hanako
"Seharusnya Emi membacanya ini. Dia yang paling sering menulis puisi." Ujar Aiko
"Kau benar, kenapa dulu ia menulis seperti ini?" Tanya Hanako pada Aiko
Aiko hanya menggelengkan kepalanya saja dan tak bisa menjawab pertanyaan Hanako
"Tapi, jika Emi yang dulu yakin kalau rasa ini tak akan mati. Aku yakin Emi yang ada di surga sedang melihat kita di bawah sini membaca surat di kapsul waktu" Ujar Hanako
"Kuharap juga begitu." Timbal Aiko
Hanako dan Aiko hanya memandang langit. Mereka berhayal Emi berada di awan sedang melambaikan tangannya kepada mereka berdua.
"Pesan yang tadi kita baca seperti pesan dari malaikat saja." Ujar Aiko memecah kesunyian
"Benar. Aku merasa, Emi adalah malaikat bukan Emi adalah bidadari yang meninggalkan pesan untuk kita berdua." Timbal Hanako
"Aku yakin, Emi sedang tertawa disana menertawakan kita"
"Itu memang kebiasaannya bukan?"
Aiko dan Hanako saling berpandangan dan kemudian tertawa bersama. Sakura dan Asuka yang melihatnya hanya bisa tersenyum lega karena Aiko dan Hanako tak akan sakit lagi.
Semuanya hanya dapat tersenyum bahagia.
Dan pesan dari bidadari itu, bagaikan obat untuk Aiko dan Hanako. Penyembuh luka hati mereka.
~~~ THE END ~~~~
Original by : Nabilla Ghina Zavitri
Saturday, October 3 2009
10.07 P.M