Di hari Valentine dan Imlek ini, saya dapet gift dari Choco . Thanks yah. ^^
Lucu gak? Hehhehee..... Thanks banyak yang Choco. Giftnya lucu. Terus, ada lagi, (entah di kasih atau gak, ambil aja deh). Ini dia :
Lucu gak? Pastinya dong. Makasih yah Choco.
Ini hati buat kalian di hari Valentine ini. Pajang yah di blog kalian.
Ini aku kasih buat siapa aja. Yang pernah ngisi Shoutmix atau yang jadi followers aku.
Berhubung ini hari valentine(sebetulnya aku gak ngerayainnya), ini ada puisi buat kalian semuanya.
Menunggu saat-saat yang tepat
Untuk menyatakan Cinta
Semoga saja kau bisa menerimanya
Cinta tulus dari hati
Walau cinta terus ada setiap harinya
Walau kasih terus ada setiap waktunya
Berikan aku kesempatan
Untuk nyatakan ungkapan rasa
Agar kau bisa melihatnya
Walau Cinta ada dalam hari
Tapi ungkapan Cinta jarang terucap
Semoga saja ungakapan ini
Menggambarkan sebuah rasa
Rasa yang tak pernah mati.
Sekian puisi dari saya. Maaf rada-rada gaje.
Oh ya, sekalian. Untuk yang merayakan Imlek, selamat aja yah. ^^
Entah apa yang terjadi saat itu. Kini aku berbaring di ranjang putih. Tak ada orang disini. Tak ada orang yang melihatku siuman setelah kecelakaan itu. Kepalaku terasa berat, mungkin ada beberapa ingatan-ingatan kecil dalam otakku yang hilang, atau aku memang hanya pusing biasa? Aku mengedarkan pandanganku pada kamar kecil ini. Terdapat vas bunga di sebelah ranjang putih ini, meja dan kursi, dan juga satu televisi kecil yang menghiasi kamar ini.
Tok,tok,tok
Seseorang mengetuk pintu kamar ini dan dibukanya pintu itu, seorang wanita berpakaian serba putih, kurasa perawat. Ia melihat botol infus di sebelah ranjangku tanpa menyapaku. Ia mencatat sesuatu, lalu pergi berlalu. Ia hanya memandangku sekali lalu memberikan senyum kecil terpaksa dan pergi bergitu saja. Aku tak ingat, kapan aku mendapat senyum kecil terpaksa itu.
Sepi yang ku tahu saat ini. Jendela kamar ini pun tak di buka sama sekali. Sinar matahari pun tak sanggup menembus gorden itu. Kelam. Hanya itu yang aku rasakan. Aku ketakutan. Aku memeluk bantalku erat agar bantal itu tak pergi kemana-mana. Aku tahu, tak mungkin bantal itu berjalan, tapi aku merasa semua orang meninggalkanku.
Tok,tok,tok
Kembali terdengar suara ketukan pintu, terlihat seseorang, tepatnya wanita datang. Wanita ini berbeda dengan yang tadi, ia memakai kemeja putih dan rok selutut berwarna hitam. Sepatu hak tinggi tak lupa menghiasi kakinya yang indah. Dandanan yang tak terlalu mencolok, terkesan natural. Ia kembangkan senyuman di bibir kecilnya, ia menatapku lekat. Terdengar suara hentakan sepatu hak tinggi, ia hempaskan tubuhnya dekat denganku. Ia duduk di sebelahku dan membelai rambut panjangku lembut. Ia tebarkan kembali senyumannya. Tangannya kini memegang tanganku. Hangat, hanya itu yang ku rasa.
"Kamu akan baik saja, kamu ingat aku kan?" Tanyanya pelan.
Sebuah suara yang lembut yang mengingatkanku pada sesuatu yang kulupakan. Ia menatapku penuh harap, mungkin tadi adalah pertanyaan untukku. Aku menggelengkan kepalaku pelan. Ia hanya menghembuskan nafasnya panjang. Ia tersenyum kembali, dan meninggalkanku sendiri lagi.
Hanya itu? Aku tertunduk lemas. Ku kira ia akan menemani kesendirianku ini. Ia hanya tebarkan senyum tanpa arti seperti itu? Untuk apa?
Aku hanya melamun tanpa arti. Aku mengingat semuanya kembali, tapi tak ada satupun ingatan yang menghampiri otakku ini, sekedar untuk bertanya "siapa aku?". Seharusnya aku tak bangun dari mimpi indahku. Kini aku hanya termenung. Tanpa bisa melihat matahari yang tersenyum.
Tok,tok,tok,tok
Kini kembali terdengar suara ketukan pintu. Aku tak peduli dengan orang yang akan menghampiriku. Apalagi hanya untuk tersenyum padaku. Padahal aku memerlukan sebuah jawaban yang takut untukku tanyakan.
Kini seorang pria menghampiriku. Sepertinya ia bukan dokter yang merawatku. Ia tebarkan senyumnya, sama seperti wanita tadi. Ia menghampiriku, dan duduk di sebelahku. Tercium parfum yang begitu wangi. Entah mengapa, kepalaku ingin bersandar di dadanya, tapi aku takut. Aku hanya memandangnya, dan mengalihkannya kearah lain. Ia hanya tersenyum dengan tingkahku.
Ia menarikku dalam pelukannya pelan. Aku mencium wangi parfumnya. Entah mengapa aku pernah merasakan pelukan seperti ini. Ada rasa yang aku rindukan. Padahal aku tak tahu pria ini.
"Kamu tak akan sendiri." Bisiknya. Aku hanya memeluknya erat, tak ingin ia pergi.
"Tenang-tenang, aku tak akan kemana-mana. Kamu jangan khawatir."
"Sungguh?"
"Ya, aku tak akan ingkar janji padamu. Aku akan menjagamu. Hingga kau ingat siapa aku."
Aku hanya mengangguk pelan. Entah mengapa, otakku menyuruhku mengulurkan jari kelingkingku. Aku pun tak tahu maksud dari otakku ini. Ia pun menyambutnya, dan memelukku erat.
~~~~~~~~~~
Aku meletakan bukuku dan meminum secangkir teh hangat yang sudah tersedia di depanku. Teras rumah seorang yang kaya raya. Mataku menyorot berbagai aktifitas sekitar rumah mewah ini. Sudah 2 tahun setelah aku siuman dari koma. Pria yang memelukku saat itu adalah papaku. Ya, awalnya aku tak percaya, karena terlalu muda. Tapi, aku bersyukur saja degan hal itu.
Selama 2 tahun ini aku terus mengingat dan menjalani terapi untuk menemukan ingatanku yang dulu hilang, dan ternyata cara-cara yang ku tempuh membawakan hasil. Aku mengingat beberapa hal , dan menjawab pertanyaanku. Kini aku tahu siapa namaku, kenapa dulu aku bisa ada di ranjang putih itu, siapa wanita dan pria itu, dan tentang semuanya. Tetapi, ada sesuatu hal yang kurang. Padahal, dokter yang merawatku berkata, bahwa hampir semua ingatanku sudah kembali, tapi tetap saja ada yang kurang.
"Sedang melamunkan apa, sayang?"
Aku melirik kebelakangku dan ku temukan mama disana. Ya, wanita yang tersenyum kecil yang ku kira senyum itu adalah senyum terpaksa untukku.
"Bukan apa-apa, ma. Sepertinya ada yang kurang dari diriku." Ujarku.
"Yang kurang? Bukankah semuanya sudah lengkap?"
"Iya, aku tahu, ma. Tapi, ada saja hal yang kurang. Aku tak bisa mengingatnya, ma."
"Sudahlah, tak usah di ingat saja hal itu. Nanti kamu sakit lagi." Ujarnya. Ia pun membelai rambutku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya, dan memeluknya. Entah mengapa, hal ini terkadang membuatku tenang.
"Ya sudah, mama mau masuk kedalam dulu. Kamu disini saja. Mama tinggal dulu yah." Ujarnya dan mengecup keningku.
"Iya, Ma. Nova kan bukan anak kecil lagi." Ujarku.
Mama hanya tersenyum dan meninggalkanku dengan buku yang sedang kubaca.
Setelah mama pergi, aku berpikir tentang perkataan mama untuk melupakan sesuatu yang mengganjal di hatiku. Aku berniat untuk melupakan itu, tetapi tetap saja itu mengganggu pikiranku. Semakin aku berusaha untuk melupakannya, semakin terus untuk aku mengingatnya. Aku pensaran, apa yang mengganjal hati ini.
~~~~~~~
Sudah bertahun-tahun setelah hari kecelakaan itu, aku menjalani kehidupanku dengan normal. Aku masuk kampus dan menjalani hidup layaknya remaja biasa. Mempunyai teman, orang tua yang menyayangi anaknya, melirik cowok yang sekiranya tampan, dan hal-hal yang biasa remaja lakukan. Tapi, tetap saja aku mencari tahu tentang apa yang mengganjal hati ini. Setiap aku sendiri atau bersama kedua orang tuaku hati ini selalu tak tenang, tetapi ketika aku bersama teman, rasanya hati ini ringan tanpa beban.
Hingga suatu hari, hal itu terjadi. Aku mengalami kecelakaan kembali, dan mengharuskanku menginap di ranjang putih lagi setelah sekian tahun lamanya. Aku di antar dalam keadaan tak sadar ke rumah sakit oleh teman-temanku. Selama 3 hari, aku koma. Terlihat seperti seseorang yang sedang tidur dengan nyenyaknya. Beberapa alat di pasang di tubuhku untuk menunjang kesehatanku.
Aku pun membuka mataku di Rabu pagi yang cerah. Terlihat matahari tanpa malu memasuki jendela kamar rumah sakit ini, membuatku terbangun. Semuanya memandangku penuh cemas, hingga beberapa temanku menangis. Aku melihat semuanya dengan heran, mengapa semuanya memandangku begitu cemas?
"Nova, akhirnya kamu sadar juga." Ujar mama yang sudah mengeluarkan air matanya sejak tadi, ia memelukku dan mengecup keningku hangat. Entah ada suatu perasaan yang menyelimuti hatiku saat ini.
Yang lainnya terlihat tak bisa berkata-kata, aku hanya bisa menunjukan senyumku di antara perban di wajahku. Ku lihat semua yang ada disana menangis, dan memberikanku sebuah pelukan dan kecupan hangat. Papa hanya terlihat menteskan beberapa air mata dan berpura-pura tegar, padahal aku tahu, dalam hatinya ia sangat khawatir dengan keadaan anaknya ini.
Beberapa jam setelah aku siuman, mereka bercerita begitu semangat. Menceritakan betapa khawatirnya mereka, betapa mereka sedih mengetahui aku terbaring lemah tak berdaya. Aku hanya tersenyum melihat tingakh mereka, terutama teman-temanku. Mereka bercerita, juga meneteskan beberapa air matanya lagi. Aku begitu senang melihat hal ini. Papa dan mama hanya melihatku dan teman-temanku penuh senyum, mereka juga meneteskan air mata yang sama dengan mereka.
DEG
Suara detak jantungku, sakit. Tapi, entah mengapa aku tak ingin menunjukan kesakitanku pada mereka. Aku takut tak akan melihat kebersamaan dan kebahagiaan seperti ini lagi. Aku menatap mereka dengan begitu bahagia. Semuanya tertawa, agar aku tertawa. Aku hanya bisa persembahkan senyum terbaikku. Hingga waktuku tiba.
Aku pejamkan mataku dimana saat ini aku berada dekat dengan orang-orang yang aku cintai. Akhirnya aku tahu, sesuatu yang tak bisa ku temukan hanya dengan mengingat, Kebahagiaan, kebersamaan, dan saling memiliki. Itulah yang dulu belum aku dapatkan. Aku hanya dapatkan sebuah senyuman, tetapi aku tak dapatkan keceriaan dalam wajah mereka. Kini aku bisa tenang bermimpi, karena aku tahu sesuatu itu.
Aku pandangi satu persatu kembali, sebelum aku benar-benar terbawa kedalam alam mimpi. Mereka tertawa, dan aku senang melihatnya. Aku pejamkan mata ini dan tebarkan sebuah senyuman kecil.
Sepertinya mereka tak tahu, bahwa aku sudah berada dalam mimpiku untuk selamanya. Hingga matahari tersenyum padaku. Mereka menangis kembali. Walau ada perasaan kecewa, aku tenang meninggalkan semuanya. Kebahagiaan itu akhirnya aku dapatkan.
Hari ini hari yang aneh banget. Masa tadi pagi udah bercapek-capek ria karena jadwal ganti lagi kurang dari hitungan beberapa minggu. Tetapi, itu tak mengurungkan niatku. Sebetulnya gak ada niatan apa-apa, cuma sekarang lagi gila-gilaan sama yang namanya NOVEL. Sumpah, aku jatuh cinta sama novel. Asal ber-genre romance dan gokil aja. But, i have work about novel. Buat tugas membedakan novel jaman sekarang dengan angkatan 20-30-an? OMG !!!! Gimana gak shock. (Lebay). Soalnya aku minjem buku tahun segitu ke temen, kalau gak salah tentang Siti Nurbaya (Jadul amat yah?) Gila bo..... Heboh deh gue. Hehehe... Maksudnya, gila aja, udah tulisan sekecil begitu, halamannya banyak amat. Ckckckckck.... Tahan amat baca yang gituan. Mana bahsanya baku banget. Stress deh.
Tapi, tadi di sekolah sepertinya obatku habis dan kumat lagi deh penyatik gilanya bersama teman. Teman memang segalanya (walau Allah SWT dan Keluarga ada prioritas utama). Oh ya, masih seperti biasa. Tugasku belum aku kerjain (nih anak bentar lagi UAN, nyadar diri dong) terus selain itu, novel ku belum aku baca (sebenernya minjem sih.) Ah, jadi seneng baca novel nih.... I love novel.
Oh ya, sekarang aku lagi gak enak badan. Gila, suara udah serak-serak basah gini (maksud?). Maksudnya udah abis nih suara di pake jerit-jeritan di kelas. Hehehehe... emang sih, kalau lagi gila sama teman itu menyenangkan, dari pada sendiri? Nanti di sangka orang gila beneran deh. Ihh... amit-amit deh.
Oh ya, selain belajar aku juga lagi mau buat novel, tapi gak mungkin deh. Soalnya lagi UAN. Jadi kita urungkan saja niatan itu.
Udah dulu yah. Udah malam. Belum harvest farm ville lagi. Hehhee... See you. ^^
Huh.... Ada beberapa orang yang ngirim award ke aku nih. Yang pertama dapet dari : Aul, choco, dan Chika. Awardnya sama aja sih. Tapi ini dia awardnya :
Terus di suruh kirim ke 13 orang teman pula. Aduh,aduh.... okey deh.
It's four AM, I'm waking up to your perfume
Don't get up, I'll get through on my own
I don't know if I'm home
Or if I lost the way into your room
I'm spiraling into my doom
I'm feeling half alive but I know one day
You and I will be free,
To live and die by our own rules,
Free..
Despite the fact that men are fools.
I'm almost alive, and I need you to try
And save me.
It's okay that we're dying,
But I need to survive tonight, tonight.
Well excuse me while I get killed softly,
Heart slows down and I can hardly tell you I'm okay
At least 'til yesterday,
You know you got me off my highest guard,
Believe me when I say it's hard.
We'll get through this tonight
And I know one day you and I will be free
To live and die by our own rules,
Free..
Despite the fact that men are fools.
I'm almost alive, and I need you to try
And save me.
It's okay that we're dying,
But I need to survive tonight, tonight.
And you touch my hand ever so slightly
(Girl we're not ready for this yet)
And the deadly look she cast upon me
I won't regret, I won't regret
I won't regret. I won't regret...
And I was trying to disappear,
But you got me wrapped around you
I can hardly breathe without you
I was trying to disappear
But I got lost in your eyes now,
You brought me down to size now.
I'm almost alive
And I need you to try and save me.
It's okay that we're dying
But I need to survive tonight, tonight
Tonight...
I'm almost alive, and I need you to try
And save me.
It's okay that we're dying,
But I need to survive tonight, tonight.
I need to survive tonight, tonight
Saya cuma sebentar kok. Gak lama-lama. Saya cuma mau promosi Blog pertemanan saya dan kawan-kawan saya ini blognya : Navigator BFF
Pokoknya kunjungi blog itu. Akan ada kejutan menarik (emang undian?, Lagian tuh blog sepi bener). Please.... kunjungi yah.... Kalian baik deh. ^^ (merayu.) Sekian dulu. Pokoknya kunjungi, dan gak akan nyesel. Kalau bisa follow, minimal isi shoutmixnya. Kasian lho... ^^"
Eh, pertama aku mau kasih tau dulu ke temen-temen yang suka mampir ke blog aku. Tolong cantumin link blog kalian, jadi aku bisa balik berkunjung. Sekalian saya Follow. Hehhehe....
Okey, pagi ini saya ingin cerita cuma males. Tinggal mengihitung hari, detik demi detik (lha kok nyanyi?) Maksudnya tinggal sebentar lagi saya akan meninggalkan SMP yang saya cintai (sebenarnya gak juga sih) dan melanjutkan ke SMA. Entah saya akan bermutasi ke Bandung atau tetap di Cianjur. Saya tak tahu. Tapi, ang pasti doakan aku supaya lulus SMP dengan hasil yang memuaskan. Soalnya aku tegang banget sih (tegang dari Jerman? Orang kemarin aja masih bisa main bukannya belajar). Seharusnya sekarang ini saya kelas 2 SMP, tapi entah bagaimana bisa saya jadi kelas 3 SMP. Sebetulnya bisa aja, karena mengikuti akselerasi. Huhuhuhu....
Okey, sebetulnya banyak planning di minggu-minggu terakhir ini. Tapi, saya males ah.... (kebanyakan males nih anak.)
Sekarang saya cuma mau menyapa teman-teman, karena sudah jarang aku memposting. ^^
PAGI ALLL..... ini ada puisi buat kalian.
Bangun kawan
Kita jalani hari
Jangan kau terbawa mimpi
Sebab hari ini cerah
Buka mata
Hati
Pikiran
Dan, langkah kaki kalian
Senandungkan lagu ceria
Untuk menambahkan suasana
Jangan kau muram
Mari sambut hari ini kawan
Dengan tawa dan canda.
Segitu dulu dari saya. Nanti kapan-kapan saya post lagi. ^^
Hola Blogger. Kali ini saya akan menyadarkan anda-anda semua tentang tujuan terakhir kita hidup, yaitu mati. Okey, jangan pada takut buat baca postingan ini. Gak bakal terbawa mimpi kok. Beneran deh.
Pertama, pengertian kematian itu sendiri adalah tidak berfungsinya lagi suatu organisme secara keseluruhan. Tidak bisa bergerak, dan semua organ-organ dalam suatu organisme akan mati atau tidak dapat berfungsi lagi. Kematian bisa di sebabkan oleh organ-organ yang ada dalam tubuh kita. Secara alami, kematian pada manusia adalah dimana paru-paru atau jantung sudah tidak bisa bekerja secara maksimal. Dimana paru-paru dan jantung ini mengalami kegagalan dalam bekerja. Karena paru-paru dan jantung bekerja setiap hari, secara logika manusia beraktifitas membutuhkan istirahat, tapi organ-organ seperti itu tidak melakukan istirahat, tetapi terus bekerja, dan yang di sebut kematianlah dimana saat organ-organ itu sudah tidak dapat bekerja lagi. Mungkin saja karena sudah kecepekan, jadi perlu istirahat. Tetapi, tidak mungkin kan organ-organ itu diam sebentar kemudian bekerja kembali (mungkin saja sih, mungkin ada mukzizat. Tapi, normalnya tidak mungkin) untuk istirahat? Mereka akan diam dan tak akan bekerja lagi. Sebuah hal yang mustahil jika dalam logika. Tapi, inilah kenyataan. Dimana ada kehidupan, disana ada kematian.
Makhluk hidup pasti menemukan ajalnya. Itu semua sudah di tentukan oleh Yang Maha Kuasa. Tak ada yang bisa menentangnya. Semuanya sudah di jabarkan dengan jelas dan tak dapat di hindari, dimana kita pasti akan kehilangan nyawa kita. Sebenarnya bukan kehilangan nyawa, lebih tepatnya kita berpinda dunia ke dunia yang akan abadi. Kita hanya meninggalkan jasad di bumi, sementara roh kita di bawa entah kemana.
Pernahkah kalian berpikir? Bagaimana rasanya mati? Bagaimana rasanya memikirkan masa depan yang akhirnya tujuannya mati juga? Hal ini sedang aku rasakan, tapi perasaanku masih di liputi setan-setan yang menyuruhku untuk tidak bertobat. Kematian tidak ada yang tahu, itu adalah rahasia Allah Swt, maka kita hanya perlu bersiap-siap dengan yang terjadi selanjutnya. Aku ada puisi tentang kematian.
Sebuah rasa yang ku rasa
Saat rasaku mati
Bukan rasaku yang mati
Hanya rasaku yang pergi
Meninggalkan raga
Ini adalah takdir
Yang harus dijalani
Tak bisa di hindarkan lagi
Hanya perlu di jalani
Waktu akan terus berputar
Seiringnya hembusan nafas
Seirama dengan detakan jantung
Yang pasti akan hilang
Percaya kah kalian?
Hidup hanya sementara?
Bagaimana pun caranya.
Kalian tak bisa menghindar
Dari ajal yang datang
Sekian dari saya. Mohon maaf bila ada kesalahan kata. ^^