Senin, 07 Maret 2011

Cerita dan Kenyataan

| | 7 komentar

Namanya Nur Aini Raniah. Ia tinggal di Jalan Merpati 13, di sebelah rumahku. Ia tak pernah keluar rumah kecuali untuk sekolah, les, ataupun (mungkin) disuruh orang tuanya untuk membeli sesuatu di warung yang berada di ujung jalan. Ia sangat tertutup. Padahal orang tuanya sangat ramah dan terbuka kepada tetangga-tetangganya. Di sekolah pun begitu. Jarang sekali aku melihat dia mengobrol dengan teman-teman yang lain. Dia selalu menyendiri dengan buku-bukunya. Kadang aku melihat ia membaca buku tentang filosofi seperti itu.
            Rambutnya panjang sebahu. Memakai kaca mata berbingkai persegi panjang besar yang cocok untuk mata bundarnya. Warna kulitnya kuning langsat. Bibirnya merah marun dan mungil. Postur tubuhnya ideal. Bagiku dia sangatlah cantik, bahkan tanpa dandanan apapun seperti yang banyak dipakai oleh teman-temanku, ia tetaplah cantik dan menawan. Rambutnya yang sehat dan lebat melengkapi wajah manisnya, padahal potongan rambutnya biasa saja. Mungkin parasnya itu warisan dari orang tuanya yang memang tampan dan cantik.
Ia senang memakai baju-baju (yang menurutku sudah kuno) terusan panjang dan rok. Jarang sekali, atau mungkin tidak pernah ia memakai celana jeans. Walau begitu, ia tetap cantik. Seperti yang sudah ku bilang, ia jarang keluar rumah. Pernah suatu saat ia datang ke pesta ulang tahun ku (Kau tahu? Ia hanya datang ke pesta ulang tahunku saja. Padahal mungkin ia banyak di undang oleh teman-teman yang lain.), pakaiannya sederhana sekali. Gaun abu-abu panjang yang indah. Ia sangat mencolok di tengah-tengah gaun-gaun berwarna cerah.
            Banyak yang bilang, dia itu anak autis, bisu, sampai anak haram. Karena ia jarang sekali bicara (mungkin tidak pernah). Maka dari itu, banyak asumsi-asumsi negatif tentang dia yang beredar di sekitar lingkungan rumahku atau sekolah. Walaupun dengan gossip-gosip yang belum tentu benar adanya, dia dan keluarganya (tampaknya) tenang-tenang saja. Mungkin yang jelas kelihatan tenang adalah kedua orang tuanya. Mereka tetap ramah kepada tetangga-tetangga walau anak mereka di gosipkan seperti itu.

Tok Tok Tok
            Gadis itu berpaling dari laptop yang sedang ia pegang, kemudia melirik ke arah pintu. Tanpa ada aba-aba dari gadis itu untuk masuk, orang yang mengetuk itu langsung masuk dan mendekati gadis itu. Kemudian orang itu yang ternyata pelayan gadis itu menaruh segelas air dan kue kering ke atas meja yang ada di dekat gadis itu.  Tanpa menunggu aba-aba dari majikannya, apalagi ucapan terima kasih, pelayan itu langsung melesat meninggalkan majikannya dalam kesunyian di sebuah kamar. Gadis itu kembali meneruskan mengetik yang tadi sempat tertunda.

            Pernah suatu ketika aku berbincang dengannya sebentar di sekolah. Ketika itu, wajahnya sangat tegang dan terlihat sangat panik. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, aku langsung saja bertanya kenapa dia panik seperti itu. Aku pun bertanya, apakah aku menyeramkan. Karena pertanyaan bodoh itu, ia hampir saja akan melarikan diri. Untuk saja aku bisa mencegahnya. Hah, padahal saat itu aku hanya ingin meminjam buku cacatannya saja.
            Sejak kejadian itu, (aku rasa) ia sering memperhatikanku dari bangku belakang. Hii… aku selalu merinding jika menyadari bahwa dia sedang memperhatikanku. Pernah sesekali aku menengok ke arah belakang dan ketika itu ia sedang memperhatikanku. Matanya yang bundar menyipit dengan aneh dan menatap tajam dari belakang kaca matanya yang bagus. Tak pernah ku lihat tatapan seperti itu dalam hidupku. Aku selalu ketakutan setiap aku merasakan ataupun menyadari bahwa dia sedang memperhatikanku.
Krek Krek
            Bunyi sendi leher yang bergeser menggema di kamar itu.
Krek Krek
            Gadis itu merentangkan tangannya, melenturkan setiap otot dan sendinya yang kaku karena telah duduk berjam-jam di depan laptopnya. Ia mengambil air yang tadi dibawakan oleh pelayannya. Memakan beberapa kue keringnya, kemudian bersandar di sofa empuk yang sedang ia duduki. Tak berapa lama ia beranjak dari sofanya, kemudian keluar dari kamar itu dan menemui pelayannya.
            Seakan bisa membaca pikiran, pelayan itu menghampiri majikannya yang sedang berjalan menuju dapur. Kemudian ia hanya menganggukan kepala, dan kembali ke dapur. Gadis itu kemudian kembali ke kamar itu. Kembali duduk. Kembali meneruskan apa yang ia sedang ketik.
            “Aini!” Panggilku ketika usai sekolah. Entah ada keberanian apa aku memanggilnya di siang yang terik itu. Orang yang aku panggil Aini berbalik melihat ke arahku. Rambutnya yang mulai memanjang, tersibak dan memantulkan sinar matahari yang sedang terik-teriknya saat itu. Sama seperti beberapa waktu yang lalu, wajahnya kembali menengang dan terlihat sangat panik. Dengan keberanian apa adanya, aku menghampirinya.
DUK
            Sepertinya ada sesuatu yang jatuh. Gadis itu kemudian berlari ke arah pintu. Membuka pintunya dan melihat apa yang ada dibalik pintunya. Gadis lain. Dengan tangan dan kaki yang terikat, mulut terikat kain. Gadis itu kemudian melirik ke arah pelayannya dan menyunggingkan senyum kecil yang terlihat licik. Tanpa aba-aba, pelayan itu menggendong gadis lain itu masuk ke kamar majikannya, lalu mendudukannya di bangku kecil yang ada di kamar itu.
            Gadis itu melirik ke arah pelayannya. Melihat isyarat yang di berikan majikannya, tanpa basa-basi pelayan itu pergi meninggalkan majikannya dengan gadis yang sedang tertidur karena pengaruh obat bius dalam keadaan terikat.
            Gadis itu kembali menyunggingkan senyum kecilnya yang licik.
            “Terima kasih atas bukunya. Nah, sekarang aku pamit pulang. Sampai jumpa di sekolah.” Ujar ku penuh ceria kepada Aini, teman baruku. Ah, betapa senangnya bisa berteman dengan Aini yang ternyata penuh senyum itu. Aini mengantarku sampai ke depan pintu rumahnya, lalu melambaikan tangannya dengan tersenyum. Aku membalas senyumannya lalu pulang ke rumahku yang tak jauh dari rumahnya itu.
            Karena keberanianku yang entah mengapa waktu itu muncul begitu saja, aku jadi dekat dengan Aini. Walaupun di sekolah aku tak terlalu dekat (karena dia memintaku untuk tak terlalu dekat dengannya di sekolah), tapi di rumahnya aku bisa tertawa dan bercerita banyak dengannya. Tapi, aku masih belum tahu mengapa ia bersikap tertutup dan tak mau bermain ke rumahku. Seakan rumahku itu sangatlah jauh dan ia takut tersesat. Jika pun begitu, ia punya segudang pelayan yang siap menemaninya.
            Pernah suatu ketika aku bertanya tentang hal itu. “Ada beberapa hal yang tidak perlu kamu ketahui dan hal yang kamu tanyakan itu lebih baik tak usah kamu tahu.” Jawabnya saat itu. Aku jadi merasa sangat bersalah karena menanyakan hal yang (mungkin menurutnya) pribadi.
Duk duk,
“Hmmmm… Hmmm…”
Duk Duk
            Gadis yang terikat itu ternyata sudah bangun. Pengaruh obat biusnya sepertinya sudah habis. Gadis itu berpaling dari laptopnya dan melihat gadis itu. Kemudian ia berjalan mendekati gadis yang sedang berusaha melepaskan diri dari ikatan yang mengikat tangan dan kakinya.
“Hmmm… Hmmm…” Suara itu keluar dari mulut gadis yang di bekap itu. Gadis itu membelai pipi gadis yang di bekap itu. Senyum kecilnya kembali tersungging. Seakan menyatakan kemenangan atas gadis malang itu. Kemenangan yang tidak ada.
            “Apa maksudnya ini?” Aku berteriak keras di hadapan Aini. Apa yang sedang ia lakukan? Senyum ramahnya hilang digantikan senyum kecil yang penuh kelicikan. Aini tak menjawab, ia hanya mengitar ku dan mengelus-elus pipiku. Aku terikat di kamar bawah tanah di rumah Aini. Saat itu aku sedang bermain seperti biasa di rumah Aini, kerena jiwa ingin tahuku yang sangat besar, aku memancing Aini untuk menjawab pertanyaan bodohku.
            Aku tak pernah melihat Aini sesekesal ini. Wajahnya sama seperti pertama aku mengajaknya berbicara. Tegang namun tak ada panik disana. “Mengapa kau selalu menanyakan hal-hal seperti itu? Aku sudah cukup bersabar denganmu dan pertanyaan konyolmu itu, tapi kenapa kamu tak bisa berhenti? Apa kamu ingin tahu? Jika kamu memang benar-benar ingin tahu, ayo ikut aku sekarang!” Aini langsung saja menarik tanganku dan membawaku ke ruangan ini. Ruangan dimana aku di sekap.
            “Kau mau tahu kenapa aku tertutup dengan orang lain tetapi denganmu tidak?” Ujar Aini tanpa menjawab pertanyaanku yang tadi.
            “Kau juga ingin tahu kenapa aku tak pernah mau mengunjungi rumah mu? Kamu ingin tahu kenapa orang tuaku jarang kelihatan dirumah tetapi sering berada di luar rumah? Kamu juga ingin tahu segala sesuatu tetangku yang pernah kamu tanyakan???” Tanya Aini dengan suara yang keras dan menggema di ruangan itu. Kemudian ia mendekati telingaku.
            “Jawabannya hanya satu, yaitu……
“AAAAAHHHH…..!!!!!” Jerit gadis yang di ikat itu. Kini kain yang ada di mulutnya di lepas oleh gadis yang satunya lagi. Kemudian gadis itu mengelus-elus pipi gadis yang diikat itu. Mencubitnya dan mencekiknya hingga gadis itu kehabisan nafas.
            “Apa yang kamu lakukan? Kamu mau membunuhku?” Teriak gadis itu kehadapan wajah gadis yang mencekiknya tadi. “Apa yang akan kamu lakukan? Apa? Apa salahku? Kenapa kamu lakukan ini padaku? Apa karena pertanyaan itu kamu menjadi seperti ini?” Isak gadis itu. Air matanya turun perlahan, membasahi pipinya.
            “Kau mau tahu kenapa aku seperti ini?” Jawab gadis itu tanpa memalingkan tatapannya dari gadis yang sedang ia bekap. Dengan ragu, gadis itu mengangguk. Kemudian gadis itu bergerak menuju telinga gadis yang sedang ia bekap itu.
            “Jawabannya hanya satu, yaitu……
            ….KAMU!”
 …KAMU!”
“Kamu yang mencuri kehidupanku. Kamu yang mencuri keluargaku. Orang tuaku yang selama ini kamu lihat itu adalah PALSU! PALSU GINA! Kenapa kamu mencuri kehidupanku? Kenapa? Kamu tidak tahu kan kalau aku adalah saudaramu? Aku adalah anak dari kedua orang tuamu yang di buang entah apa alasannya. Aku, aku, aku, AKU TIDAK PERNAH TERIMA KEHIDUPAN SEPERTI INI. KAMU HARUS TERIMA BALASANNYA!”
“Kamu yang mencuri kehidupanku, mencuri keluargaku. Orang tua yang selama ini kamu lihat itu adalah PALSU, AINI! Kenapa kamu mencuri kehidupanku? KENAPA? Kamu tidak pernah tahu kan kalau aku adalah saudaramu? Aku adalah anak dari kedua orang tuamu yang di buang entah apa alasannya. Aku, aku, aku, AKU TIDAK PERNAH TERIMA KEHIDUPAN SEPERTI INI. KAMU HARUS TERIMA BALASANNYA!”
Aku ketakutan. Aku ingin pulang pada saat itu juga. Aku bingung. Entah mengapa ucapan Aini menusuk dadaku. Aku ingin pulang!
Gadis yang diikat itu ketakutan. Gadis itu terlihat lemas dan sepertinya ingin pulang saat itu juga. Wajah gadis itu terlihat bingung. Entah mengapa, ucapan gadis yang baru saja berteriak di depannya seperti menusuk dada gadis itu. Gadis itu ingin pulang!
“Kamu harus mati, GINA!” Ujar Aini mengacungkan pistolnya.
“Kamu harus mati AINI!” Ujar Gina mengacungkan pistolnya.
DOR
DOR
            Bunyi pistol menggelegar. Polisi berdatangan kedalam ruangan itu. “ANGKAT TANGAN ANDA! TARUH SENJATA ANDA DI BAWAH! CEPAT!!!” Teriak salah satu polisi itu, lalu polisi yang lainnya memborgol tangan Aini, dan yang lainnya lagi membuka ikatan ku. Setelah terbuka, aku menghampiri Aini yang terborgol.
            “Jadi itu sebabnya orang tuaku…..”
            “Ya. Masih ada satu rahasia lagi yang belum aku ungkap. Mungkin kamu ingin tahu.”
            Bunyi pistol menggelegar. Polisi berdatangan kedalam kamar itu. “ANGKAT TANGAN ANDA! TARUH SENJATA ANDA DI BAWAH! CEPAT!!!” Teriak salah satu polisi, lalu polisi yang lainnya memborgol tangan gadis bernama Gina dan yang lainnya lagi membuka ikatan gadis bernama Aini. Setelah terbuka, Aini menghampiri Gina yang terborgol.
            “Jadi itu sebabnya…..”
            “Ya, dan masih ada satu rahasia lagi yang belum aku ceritakan. Mungkin kamu ingin tahu.”
DOR
……………………………………………………………………
DOR
            Bunyi pistol kembali menggelegar. Kali ini peluru pistol itu tepat mengenai dada Gina. Gina hanya menyunggingkan senyum kecilnya yang licik. Lalu tertidur dengan tenang untuk selamanya.
DOR
            Bunyi pistol lainnya. Kali ini tepat di dada Aini. Aini terjatuh tepat di atas badan Gina. Lalu ia melihat wajah Gina yang sudah tertidur itu.
            Mungkin harusnya aku tak mengetahui yang seharusnya aku tak ketahui, bisik Aini dalam hati. Lalu, ia pun mengikuti jejak Gina. Tertidur untuk selamanya.

THE END
Read more...

Jumat, 04 Maret 2011

Fans (?)

| | 4 komentar

Hallo Blogger.
Aaahh... rasanya udah lama yah aku gak post sesuatu di blog. Hmm... apa kabar semuanya? Semoga sehat-sehat aja yaaaa... Rindu banget sama blog ini. (peluk blogger satu-satu)

Pengennya sih curhat abis-abisan nih diblog. Pengen ngasih tau gimana kabar aku di dunia nyata yang begitu jahat dan kelam (duile, itu bahasa). Tapi, sekarang ada dorongan dan keinginan yang kuat buat cerita sesuatu sama kalian. 

Dimulai waktu hari Minggu kemarin, aku sama temen-temen lagi maen ke rumah temen. Sebut saja si A. Nah, si A ini K-Pop Lovers gitu, dan kebetulan saya juga (agak, dengerin yah AGAK!) suka dengan K-Pop ini. Apalagi saya suka banget sama boy band bernamakan SHINee. Nah, kami (saya dan A) sama-sama suka dengan leader dari SHINee yaitu Lee Jinki atau nama panggungnya Onew (kata orang bacanya Onyu, tapi saya suka bacanya Onew. Terserah kalian lah mau bacanya apa.) Ini dia penampakan orangnya : 
 (Kalau mau tau lebih lengkap tentang SHINee dan Onew. Silahkan search di Google aja. Postingan ini saya khusus buat untuk menyalurkan opini saya, bukan membeberkan tentang SHINee atau Onew.)

Terus, waktu itu kalau gak salah aku dan A ngomongin betapa kami ngefans banget sama Onew ini. Saya sampai bilang Onew itu sudah di takdirkan untuk saya (halah, lebay). Di lanjut perbincangannya, tiba-tiba ada satu perkataan (saya lupa lebih jelasnya gimana) dari dia yang menyadarkan saya ke dunia nyata yang kejam.
"Kita atau aku deh, kalau di bandingkan sama penggemar SHINee lainnya, aku tuh cuma sekecil semut dari ribuan semut. Ngerasanya sih, aku tuh penggemar fanatiknya banget, aku tuh udah ngelakuin hal-hal yang wajib dilakuin fans. Tapi, kalau aku dibandingkan sama penggemar SHINee lainnya, aku tuh bukan apa-apa. Kalau misalnya aku ikutan fan meeting gitu, di tengah banyak orang, aku tuh gak akan diliat sama mereka."
Dan aku, yang emang dasarnya gak suka kenyataan dan lebih suka imajinasi yang menguasai otakku dengan miris berkata.
"Yaa... aku ngefans sama mereka cuma sebatas fans yang udah tau dan nyadar diri bahwa aku tuh gak mungkin di liat sama mereka. Aku juga gak ada niatan dan gak bisa ngebayangin gimana kalau aku ketemu sama mereka, walau itu cuma fan meeting doang. Aku ngefans sama mereka cuma buat seneng-seneng aja."
Awalnya aku biasa aja sih sama perkataan temenku itu. Biasa banget. Gak di pikirin. Sampai kemarin, temenku sebut aja B yang sama ngefansnya ke SHINee ngambek gara-gara idolanya duet sama penyanyi cewek, dan (dengan isengnya) aku panas-panasin aja si B itu. Terus, gara-gara itu si B bilang kalau Onew pernah kissing. Shock dong saya! Terus, saya googling aja buat nyari fakta itu, dan ternyata Onew gak kissing. Waktu denger kabar itu, jujur saya cemburu (?) dan gak rela aja. Dan saya sadar gara-gara itu. Saya cuma segelintir fans kecil yang gak rela kalau idolanya ada hubungan sama cewek lain. Fans-fans Onew pun pasti punya reaksi yang sama kaya saya. Waktu itu pun saya bener-bener sadar. Gak cuma saya doang yang ngefans sama dia, gak cuma saya doang yang ngerasa dia milik saya yang lain gak boleh milikin. Hal-hal kaya gitu cuma ada di dunia saya doang. Di dunia nyata? Jangan harap. Di kenal sama idolanya aja udah seneng banget kali yah. 

Ah, apa cuma saya yang ngerasa kaya gini? Sepertinya enggak deh. Jujur, saya gak rela kalau Onew jadian atau ada gosip dekat dengan cewek lain (pasti fans-fans yang lain juga gitu kan?). Tapi, apa mau dikata? Saya bukan siapa-siapa, saya gak pernah kenal secara dekat dengan idola saya itu, saya cuma tau garis besar profile dia (itu pun gak lengkap). Jadi, saya (dengan sangat amat berat hati) merelakan jika suatu saat nanti dia punya pacar dan menikah dengan orang lain, demi kebahagiaannya juga. (Bukankah saya fans yang budiman teman-teman? hahaha)

Yaaa.. mungkin cuma segitu aja yang saya bagi. Dan karena postingan ini saya jadi tertampar dan menyadari dunia nyata itu kejam. Lebih baik dunia saya sendiri saja. hahaha...
Oke deh, sampai jumpa di post selanjutnya. :D 
Read more...

Recent Comments

LinkBox

Visitor

My Status

Sedang tidak berminat untuk blogging. Sedang mencari moodnya. :)

Guest Box

Index

Followers