“Hyoneul-ssi,
saya harus memberi tahukan sesuatu kepada Anda.” Suara dokter menggema di ruang
prakteknya. Seorang gadis memperhatikan dengan seksama kelanjutan ucapan dokter
tersebut. Tangannya mulai basah oleh keringat.
“Ehm,
menurut hasil kemoterapi yang Anda jalankan, rasanya kemoterapi ini susah untuk
menyembuhkan penyakit Anda. Anda harus mendapatkan transplasi sumsum tulang
belakang secepatnya, kira-kira dalam waktu 2-3 bulan lagi. Jika tidak, saya
tidak bisa menjamin dengan menjalankan kemoterapi terus menerus, Anda masih
tetap bertahan” Dokter itu berhenti sejenak. Wajah gadis di depannya sudah
terlihat pucat dan putus asa.
“Seonseangnim (Dokter),
jika saya mendapatkan transplasi itu, berapa kemungkinan saya bisa sembuh?” Tanya gadis itu dengan
sedikit harapan akan kehidupannya. Jawaban dokter yang yang ada di depannya
menentukan masa depannya.
“Saya tidak bisa menjanjikan itu. Mencari sumsum tulang belakang yang cocok dengan Anda bukanlah hal mudah. Hanya ada 1:10 yang mungkin cocok dengan Anda. Kami dari pihak rumah sakit pun akan berusaha untuk mencari donor sumsum untuk Anda.” Ujar dokter itu. Gadis itu hanya menghelas nafas panjang setelah mengetahui fakta akan kesehatannya. Ia pun segera permisi dan meninggalkan ruang prakter dokter yang merawatnya selama bertahun-tahun itu.
“Saya tidak bisa menjanjikan itu. Mencari sumsum tulang belakang yang cocok dengan Anda bukanlah hal mudah. Hanya ada 1:10 yang mungkin cocok dengan Anda. Kami dari pihak rumah sakit pun akan berusaha untuk mencari donor sumsum untuk Anda.” Ujar dokter itu. Gadis itu hanya menghelas nafas panjang setelah mengetahui fakta akan kesehatannya. Ia pun segera permisi dan meninggalkan ruang prakter dokter yang merawatnya selama bertahun-tahun itu.
~~~~~~*
Gadis
bernama Hyoneul itu duduk di lobby rumah sakit. Ia memperhatikan orang-orang
yang disekitarnya. Kebanyakan orang-orang yang berada disini adalah keluarga
yang menunggu anggota keluarga yang sedang sakit. Ah, keluarga. Ia teringat
akan keluarganya yang belum tahu tentang keadaannya. Selama bertahun-tahun ia
menyembunyikan penyakitnya ini dari keluarganya. Tak ada satu pun anggota
keluarganya yang curgia akan dirinya yang sering kelelahan. Mereka menganggap
itu hanyalah anemia biasa.
Ia
pun beranjak dari tempat duduknya. Namun ia menabrak seseorang sampai ia
terjatuh.
“Ah,
Gwenchana? Chesoahabnida. (Ah, Tidak apa-apa? Saya minta maaf) Saya tak sengaja.” Seorang pria asing mengulurkan
tangannya, bermaksud untuk menolongnya berdiri.
“Ah,
ne. Gwenchana. Kamsahaminda. (Ah, Ya. Saya baik-baik saja. Terima kasih) Harusnya saya yang minta maaf karena saya tidak
melihat-lihat ketika berjalan.” Hyoneul menerima uluran tangan itu. Kemudian
pria itu pergi dengan cepat dari hadapan Hyoneul. Hyoneul memperhatikan
punggung pria itu yang sudah mulai menjauh.
~~~~~~*
Hyoneul
kembali dari rumah sakit dengan wajah sangat pucat. Kedua orang tuanya sedang
membaca koran di ruang keluarga. Hyoneul mengucapkan salam dan menatap mereka
sebentar. Mereka membalas namun sama sekali tidak melihat Hyoneul, masih sibuk
dengan Koran mereka.
Hyoneul
menatap mereka.
Mereka bahkan tidak melirikku dari balik
Koran itu, batin Hyoneul. Hyoneul berjalan ke kamarnya.
~~~~~~~*
Hyoneul
berlari ke arah teman-temannya yang sudah menunggunya di depan stasiun.
“Mian (maaf),
aku datang terlambat. Tadi aku bangun ke siangan.” Hyoneul langsung merangkul
pundak ke dua temannya. Teman-temannya yang tadinya bermuka muram karena
menunggunya selama 1 jam, sekarang sudah mulai terlihat ceria kembali.
“Hari
ini kami maafkan kamu, lain kali kalau mengajak janjian jangan terlambat dong.”
Ujar salah satu temannya. Kini mereka berjalan menuju kereta bawah tanah.
“Mian.
Aku kemarin lelah sekali. Mian, Hyeri-a, Eunyoo-a. Mian.” Ujar Hyoneul meminta
maaf sekali lagi. Kereta pun datang, mereka memasuki kereta itu menuju
Gangganm.
~~~~~~~*
Setelah
berbelanja sangat banyak, mereka pun memutuskan untuk makan. Mereka menuju
salah satu restoran ayam yang sangat terkenal.
“Aah,
Sudah lama sekali aku tidak makan ayam.” Ujar Hyeri sesampainya mereka ke
restoran itu. Mereka bertiga memilih tempat duduk di paling ujung. Kemungkinan
besar mereka akan sangat berisik ketika nanti makan.
“Wae? (Kenapa?)
Sedang diet? Yaa, padahal kamu sudah kurus seperti itu, apalagi yang ingin kamu
kuruskan dari badanmu itu?” Seru Eunyoo menanggapi pernyataan Hyeri. Wajar saja
Eunyoo mengatakan itu, Hyeri sudah sangat langsing. Postur tubuhnya sudah
mendekati postur tubuh SNSD. Sudah itu Hyeri sangat tinggi untuk ukuran yoeja (perempuan)
korea kebanyakan.
“Hyeri-a,
apakah kamu mau masuk SNSD? Makanya kamu sekarang diet ?” Seru Hyoneul sambil
makan kentang yang baru saja tadi ia pesan duluan. Hyeri menggeleng.
“Ani (Tidak),
aku memang tidak sempat makan ayam saja beberapa hari ini. Sekarang sedang
banyak tugas. Dosenku tidak berperikemanusiaan!” Jelas Hyeri.
“Hahaha….
Aku juga sedang banyak tugas tapi masih sempat makan ayam. Kamu hanya beralasan
saja. Mungkin benar kata Hyoneul, kamu ingin masuk SNSD kan? Dengan wajah
cantik mirip Yoona itu kamu bias saja masuk SNSD. Hahaha…” Ejek Eunyoo. Hyeri
memang sangat suka SNSD, apalagi member SNSD Yoona. Ia sangat ingin seperti
Yoona. Wajahnya memang tidak mirip dengan Yoona, namun ia cantik dengan
sendirinya. Wajahnya oval, matanya tidak terlalu sipit, dan mempunyai 2 kelopak
mata. Rambutnya yang panjang membingkai wajahnya yang cantik itu.
“Yaa (Hey),
Eunyoo-a, kenapa kamu sekarang jadi meledekku? Sekarang bukan saat yang tepat
untuk meledekku. Sekarang itu saatnya untuk mencari tahu ada alasan apa yoeja
di sampingmu itu mengajak kita untuk jalan-jalan.” Ujar Hyeri sambil melirik
Hyoneul yang masih asih makan kentang gorengnya. Kini Eunyoo pun meliriknya.
“Kenapa
semuanya melihat kepadaku? Kalian ingin kentang goreng ini?” Ujar Hyoneul
sambil menyodorkan kentang gorengnya. Namun, teman-temannya masih menatapnya.
“Ne,
arraseo. (Ya, Aku mengerti) Aku hanya ingin jalan-jalan dengan kalian saja. Aku rindu pada
kalian.” Seru Hyoneul sambil memasukan kentangnya banyak-banyak kedalam
mulutnya. Hyeri dan Eunyoo saling bertatapan dengan masih penuh tanda tanya.
~~~~~~~*
“Annyeong (Selamat tinggal)
Hyoneul-a! Lain kali kita jalan-jalan lagi yah.
Neomu chemiso. (Sangat menyenangkan)” Ujar Hyeri mengakhiri hari mereka bertiga. Hyoneul hanya
mengangguk perlahan. Hyeri dan Eunyoo pun meninggalkan Hyoneul sendiri di dalam
stasiun. Teman-temannya masih melambaikan tanngannya dari kejauhan. Hyoneul
hanya tersenyum melihatnya. Lain kali
yah?, Hyoneul memikirkan kata-kata Hyeri tadi. Mungkin ada lain kali untuk
mereka jalan-jalan atau tidak.
Hyoneul
masih tidak ingin pulang, lantas ia duduk di depan stasiun. Hyoneul masih tidak
percaya hidupnya hanya sekitar 2 bulan lagi. Masih banyak hal yang belum ia
lakukan. Kemudian ia berpikir selama 2 bulan itu dia ingin hidup jauh dari
orang-orang yang ia sayangi. Ia ingin orang-orang yang ia sayangi terbiasa
tanpa kehadiran dia. Mungkin itu adalah
ide yang terbaik, pikirnya dalam hati.
Tiba-tiba
hujan pun turun dengan deras. Hyoneul lupa membawa payung karena tidak
menyangka akan hujan. Dari stasiun sampai ke halte bus sangat jauh, ia pasti
akan kehujanan jika nekat untuk berlari kesana. Ia tak ingin ketika sampai di
rumah orang tuanya khawatir melihatnya basah kuyup.
Tiba-tiba sebuah payung menyenggol lengannya.
Ia melirik pemilik payung itu. Ternyata pemilik payung itu adalah pria yang di
rumah sakit yang bertabrakan dengannya.
“Ahjussi! (Tuan)” Panggil Hyoneul kepada pria asing yang
menyenggol lengannya. Pria itu menatapnya penuh kebingungan.
“Ah, pasti Ahjussi
lupa denganku. Aku adalah orang yang waktu di rumah sakit bertabrakan
denganmu.” Ujar Hyoneul. Pria itu sepertinya sedang mengingat-ingat kejadian
yang diceritakan Hyoneul.
“Ahjussi, boleh tidak aku menumpang payung denganmu? Aku
tidak bawa payung. Aku menumpang hanya sampai halte bus yang di depan.” Pinta
Hyoneul dengan berharap semoga pria di sampingnya itu mau berbaik hati untuk
mengantarnya ke halte bus yang di depan.
“Kaja. (Ayo)” Ucap pria itu sambil membuka payungnya. Hyoneul
tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia pun segera mensejajarkan
langkahnya dengan pria itu.
“Ahjussi, apakah kamu tidak mengingatku?” Tanya Hyoneul.
Ahjussi itu meliriknya kemudian kembali melihat ke depan.
“Ingat.” Jawab pria itu dingin. Hyoneul kemudian menunduk
kembali. Kini mereka sudah sampai di halte bus. Hyoneul mengucapkan terima
kasih kepada pria itu namun pria itu hanya pergi berlalu saja.
“Ahjussi!” Teriak Hyoneul keras. Pria itu menengok ke
arah Hyoneul.
“Lain kali kita bertemu lagi yah..!!” Teriak Hyoneul
kembali. Pria itu langsung pergi berlalu. Hyoneul melihat punggung dan payung
pria itu dari kejauhan. Hyoneul pun jadi semakin ingin mengenal pria itu.
~~~~~~~*
Hyoneul duduk di depan kedua orang tuanya.
Hyoneul tampak gelisah, kemudian ia menatap ke omma dan appa-nya.
“Wae?
Ada yang ingin kamu katakan?” Ujar Appa nya tiba-tiba. Hyoneul melirik kearah
Appa dan Omma nya.
“Appa,
Omma (Ayah, Ibu), boleh tidak aku tinggal jauh dari kalian?” Tiba-tiba Hyoneul meminta
permintaan yang tidak biasa. Appa dan Omma-nya saling bertatapan. Masih
kebingungan.
“Wae?
Kamu mau sok hidup mandiri?” Tanya Appa nya.
“Aniyeyo. (Tidak)
Hanya ingin merasakan hidup sendiri. Aku sudah dewasa sekarang. Ingin mencari kerja
sendiri. Biar tidak merepotkan kalian.” Jelas Hyoneul. Omma dan Appa nya masih
tidak mengerti apa yang diinginkan anaknya itu.
“Wae?
Kalau kamu ingin kerja, silahkan kerja. Tapi tidak usah sampai jauh dari kami
juga. Kamu bisa bantu-bantu di kantor Omma.” Usul Omma. Hyoneul menggeleng.
“Bukan
seperti itu. Aku tidak ingin hidup seperti ini. Hidup yang dilayani oleh banyak
pembantu. Aku ingin mencoba untuk mengurus diriku sendiri. Makan hasil kerjaku.
Membersihkan rumah sendiri dan sebagainya.” Jelas Hyoneul lagi. Hyoneul
terlihat yakin dengan alasannya tadi.
“Ingin
bersih-bersih rumah? Kamu bisa kok bantu-bantu di rumah ini. Tanpa harus
pergi.” Bantah Omma. Appa hanya melihat percakapan antara ibu dan anak itu.
“Aniyeyo,
aku hanya ingin merasakan tinggal sendiri. Lagi pula, di rumah ini aku selalu
merasa sendiri.” Ujar Hyoneul.
“Mwo (Apa?)?
Merasa sendiri? Apa maksudmu? Kami selalu ada disini bersama denganmu. Apa kamu
mau tinggal berdua dengan pacarmu? Andwe! (Tidak bisa!)” Larang Omma nya keras-keras.
“Aniyeyo!
Aku bahkan tidak punya pacar. Memangnya apa bedanya aku tinggal disini atau
tinggal jauh dari sini? Kalian bahkan tak pernah memperhatikanku. Kalian bahkan
tidak pernah menyapaku? Kaliankan lebih peduli dengan pekerjaan kalian,
benarkan?” Hyoneul mulai menangis. Awalnya ia tak ingin mengungkit-ungkit
masalah orang tuanya yang jarang ada di rumah karena ia kira akan mudah
mendapatkan izin untuk hidup sendiri.
“Apa
maksudmu? Kami memperhatikanmu. Semua yang kamu butuhkan kami penuhi. Bahkan
uang yang kamu minta untuk sesuatu yang omma tidak tahu pun selama
bertahun-tahun, omma tetap kasih kepadamu.” Seru Omma tidak ingin dikatakan
tidak memperhatikan anak satu-satunya itu.
Hyoneul
menatap kedua orang tuanya. Bahkan orang tuanya tidak tahu uang yang jumlahnya
besar yang ia minta selama bertahun-tahun itu untuk kemoterapinya. Orang tuanya
sama sekali tidak curiga dengan menurunnya kesehatan Hyoneul akhir-akhir ini.
Orang tuanya bahkan tidak peduli ketika ia mulai kehilangan darah dan harus
masuk rumah sakit, mereka hanya mengunjunginya sekali. Orang tuanya sama sekali
tidak tahu keadaannya.
Air
mata Hyoneul tidak bisa ditahan lagi. Hyoneul langsung berlari ke kamarnya.
Orang tuanya menatapnya pergi. Mereka merasa sangat bersalah.
~~~~~~~*
To be continued
To be continued
