Baca part 1
~~~~~~~~~
Read more...
~~~~~~~~~
Sendi-sendinya sangat sakit sekarang. Rasanya ada
sesuatu yang menimpa sendi-sendinya. Ia segera mengambil obat pereda rasa sakit
yang diresepkan oleh dokter. Setelah memakan obat-obat itu, ia mencoba untuk
tidur namun tidak bisa. Padahal kata dokternya, penderita leukemia seperti
dirinya harus banyak istirahat dan jangan terlalu stress. Hal-hal seperti itu
bisa membuat kambuh penyakit.
Tok,
tok, tok.
Seseorang
mengetuk kamar Hyoneul, namun ia tidak menjawabnya.
Tok,
tok, tok.
Kali
ini Hyoneul berpura-pura untuk tidur. Ia tak ingin diganggu. Pembicaraan dengan
orang tuanya masih terngiang-ngiang di kepalanya.
“Hyoneul-a, Tolong bukakan pintunya sebentar.” Ujar Omma (Ibu) nya diluar. Hyoneul
pura-pura tidak mendengar.
“Hyoneul-a,
cha? (tidur?)” Tidak ada suara.
“Keure,
Chalja (Benar, tidur yang nyenyak) Hyoneul-a. “ Omma-nya pergi dari depan kamar Hyoneul. Hyoneul mulai
menitikan air mata.
~~~~~~~*
Keesokan
paginya, Hyoneul didudukan pada suasana canggung dengan orang tuanya.
Orangtuanya saling bertatapan.
“Hyoneul-a,
mengenai apa yang kamu katakan kemarin….” Hyoneul melirik kearah Appa nya.
“Omma
dan Appa (Ayah) sudah memutuskan untuk membiarkan kamu pergi. Tapi hanya dalam 2 bulan
saja. Kamu hanya ingin mencoba hidup sendiri bukan? Appa kira 2 bulan cukup
untuk mengenal hidup mandiri.” Ujar Appa. Hyoneul membelakakan matanya. Ia tak
percaya dengan apa yang didengarnya.
“Appa
kira dengan membiarkanmu mencoba tinggal sendiri tidak buruk juga. Itu
membuatmu belajar untuk hidup jauh dan tidak tergantung dengan Appa dan Omma.”
Ujar Appa lagi. Omma seperti tidak mendengarkan perkataan Appa dan memakan
sarapannya.
“Jinjayo (Benarkah),
Appa? Omma?” Tanya Hyoneul masih tidak percaya. Appa nya mengangguk, namun Omma
nya tidak. Appa pun menyenggol pundak Omma nya.
“Ne (Ya),
kamu boleh hidup diluar. Namun hanya
sampai 2 bulan.” Ujar Omma nya. Wajah Hyoneul berseri-seri.
“Gomawoyo (Terima kasih),
Appa, Omma.” Seru Hyoneul sambil memeluk kedua orangtuanya.
~~~~~~*
“Daripada
menyewa rumah, mengapa tidak menumpang dengan teman-temanmu?” Tanya Omma sambil
memasukan baju Hyoneul kedalam koper.
“Takut
merepotkan mereka.” Dan takut mereka
harus mengurusku karena penyakit ini, batin Hyoneul.
~~~~~~*
“Hyoneul-a,
kalau kamu kekurangan uang telepon Appa atau Omma saja. Nanti akan kami
kirimkan uang ke rekeningmu.” Ujar Omma.
“Hajima.
Gwenchana. (Jangan, Aku baik saja) Aku bisa cari kerja. Uang tabunganku pun masih banyak. Geogjeonghaji maseyo. (Jangan khawatir)” Ujar Hyoneul.
“Kalau
begitu, jaga kesehatanmu. Jangan sampai sakit. Kalau ada apa-apa telepon kami.”
Pesan Omma nya. Hyoneul hanya mengangguk.
Hyoneul
pun meninggalkan kedua orang tuanya dengan senyuman. Ia berharap ketika ia
selesai mencoba ‘hidup mandiri’, ia bisa datang ke rumah ini dengan senyuman
juga.
~~~~~~~*
Hyoneul
sedang kebingungan pinggir jalan. Ia tak tahu kemana ia harus pergi. Ia tak
mungkin menginap di rumah teman-temannya. Namanya itu bukan menjauhi
kehidupannya yang sekarang. Ia juga tidak punya banyak uang untuk menyewa rumah. Uang tabungannya dipakai untuk
kemoterapi dan obat-obatannya. Ia pun
duduk disalah satu bangku yang tersedia di sana.
Dari
kejauhan ia melihat pria yang mukanya sangat familiar. Ah, itu ahjussi (tuan) yang kemarin. Ia berniat memanggilnya tetapi tidak
jadi. Namun sebelum ia memanggil, pria itu menuju ke arahnya. Ah, ottokae? Dia akan menuju ke sini.
Namun pria itu hanya melwatinya begitu saja dan menuju toko baju yang ada di
belakangnya. Ah, aku terlalu banyak
berharap.
Setelah
beberapa lama pria itu meninggalkan toko baju itu. Hyoneul sebenarnya penasaran
dengan siapa dia sebenarnya. Sudah tiga kali kebetulan melihat dia. Mungkinkah
itu pertanda sesuatu? Bahkan ia tak tahu
namanya siapa. Ia pun memutuskan mengikutinya.
~~~~~~*
Hyoneul
menatap rumah yang ada di depannya. Tidak terlalu besar atau terlalu sempit untuk
rumah seorang pria. Nampaknya rumahnya pun bersih. Rumah orang yang ia ikuti
tadi lumayan jauh dari Seoul. Ia tak menyangka Ahjussi itu tinggal di rumah
yang jauh dari pusat kota seperti ini. Ia melirik ke lingkungan sekitarnya yang
tampak sepi dan masih terlihat sangat asri. Ia pun melangkahkan kakinya menuju
gerbang rumah itu dan membunyikan bel.
“Nugu
isseyo? (Siapa Anda?)” Terdengar suara dari bel.
“Ah,
Annyeonghaseyo. Han Hyoneul imnida.(Ah, Hallo. Namaku Han Hyoneul) Aku adalah orang yang kemarin menumpang
payung denganmu.” Jawab Hyoneul sambil membungkukan badan. Walaupun begitu, ia
tak mungkin terlihat oleh orang yang ada di dalam.
“Nugu?
Ah, geu yoeja. (Siapa? Ah, perempuan itu) Mau apa kamu kesini.” Tanya pria itu. Ditanya seperti Hyoneul
jadi kebingungan sendiri. Ia pun tidak mengerti kenapa ia berani senekat ini
menghampiri rumah seorang pria.
“Ah,
keuge… (Ah, itu...) Aku ingin berterima kasih saja dan rasanya sudah beberapa kali bertemu
denganmu namun aku tidak tahu namamu. Aku ingin berteman denganmu.” Jelas
Hyoneul. Kini jantungnya berdegup sangat kencang.
“Ne? (Apa?)
Berterima kasih? Kemarin bukannya sudah? Ah, sudahlah. Sebentar akan aku
bukakan gerbangnya.” Hyoneul tak menyangkan pria itu sangat baik.
Terdengar
suara gembok yang sedang di buka, lalu munculah pria itu.
“Ah,
Ahjussi. Annyeonghaseyo.” Ujar Hyoneul sambil membungkukan badannya.
“Annyeong.”
Pria itu melirik kebelakang Hyoneul. “Untuk apa koper itu?” Ujar pria itu.
Hyoneul gelagapan ditanya seperti itu. “Kau sedang kabur dari rumah dan tidak
punya tempat tujuan dan sekarang ingin minta diperbolehkan tinggal? Kemana
teman-temanmu?” Tanya pria itu langsung menusuk hati Hyoneul.
“Ne?
Aniyeo (Apa? Tidak) Aku tidak meminta untuk tinggal. Aku hanya datang berkunjung ke rumah
ahjusii. Memangnya tidak boleh?” Jelas Hyoneul. Pria itu hanya mengangguk.
Hyoneul tidak lagi berniat baik-baik lagi dengan pria itu dan meninggalkan
rumahnya.
“Sebenarnya
jika kamu ingin tinggal disini, kamu bisa kok. Sepertinya kamu tidak punya
tempat tinggal.” Teriak pria itu. Hyoneul berhenti sesaat lalu berpikir. Aku tak mungkin menyewa rumah atau tinggal
dengan teman-temanku, mungkin tawarannya itu tidak terlalu buruk juga.
Hyoneul berbalik dan berjalan kearah pria
itu.
“Asalkan
kamu mau membersihkan rumahku saja.” Ujar pria itu. Sepertinya ia tak punya
seseorang untuk mengurus rumahnya itu. Hyoneul pun meng-iya-kan pernyataan pria
itu. Kemudian mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah.
Di
depan rumah itu, terlihat mobil yang parker dengan seorang Ahjuma yang duduk di
kursi kemudi. Ia mengambil telepon genggamnya dan mulai mengetikkan sesuatu.
Setelah selesai, ia melihat kearah rumah itu.
~~~~~~~*
To be continued
P.S : Tolong dimaafkan atas segala kesalahan bahasa Koreanya serta artinya juga. Terima kasih
